Animal Farm/Manor Farm (same thing)

The Book

Buku yang lagi rame diangkat lagi sama orang-orang, terutama para influencer buku, book enthusiast, tukang review buku, dan lain-lain. Tiada lain tiada bukan adalah Animal Farm karya George Orwell. Sedikit background tentang George Orwell. George Orwell itu sebenernya nama pena. nama aslinya Eric Arthur Blair. Dia lahir di Bengal, India tahun 1903 tapi tumbuh besar di Inggris. Orwell ini terkenal banget sebagai penulis yang sering nulis soal politik, kebebasan, dan ketidakadilan sosial, tapi dengan cara yang satir dan tajem banget.

Pertama kali gw tau Orwell itu mungkin pas awal-awal kuliah (novel 1984), tapi gak pernah niat nyari tau lebih lanjut atau baca bukunya beliau (bahkan sampe tulisan ini dibuat gw masih belom baca tuntas 1984 hehe). Terus makin ke sini, makin sering juga nama Orwell muncul tiap orang bahas soal pemerintah, hoax, atau psyop sampe ada istilah “make Orwell fiction again.” Sangking tulisan-tulisan Orwell, meskipun fiksi, begitu relate dengan keadaan sekarang dan terbukti karyanya mampu menembus zaman. Sedikit trivia, Animal Farm terbit tanggal 17 Agustus 1945 di London, Inggris. Sementara itu, di hari yang sama, Indonesia lagi proklamasi kemerdekaan (sambil perlahan menulis sejarah yang gak jauh beda sama cerita di buku ini).

Cerita dalam buku ini disajikan dalam bentuk antropomorfisme, di mana hewan-hewan sebagai karakter utama dalam cerita ini berkelakuan layaknya manusia, yang bisa berbicara, berpikir, berdiskusi, bersiasat, dan lain-lain. Langsung saja kita bahas ringkasan cerita dari buku ini.

Di sebuah peternakan bernama Manor Farm, yang diurus oleh Mr. Jones dan istrinya Mrs. Jones, hiduplah berbagai jenis hewan ternak seperti ayam, domba, sapi, babi, dan juga hewan-hewan domestik lainnya seperti kucing, anjing, kuda, burung, tikus, keledai, serta berbagai hewan lain yang tak bisa disebutkan satu persatu. Pada suatu malam, Mr. Jones yang sedang teler karena kamabukan di bar berjalan pelan menuju kamarnya dan akhirnya tertidur pulas. Melihat lampu-lampu rumah Mr. Jones telah dimatikan, semua hewan di Manor Farm bergegas menuju gudang ternak sebagai titik kumpul yang telah disepakati untuk mendengarkan mimpi yang telah membayang-bayangi Old Major, seekor babi tua yang dianggap paling bijak dan karismatik. Dengan kalimat yang tegas dan berwibawa, Old Major berorasi di hadapan hewan hewan yang sudah berkumpul. Dia menceritakan sebuah dunia utopis, di mana hewan-hewan terbebas dari tirani manusia. Dia menggambarkan masa depan di mana setiap hewan hidup makmur, bekerja untuk dirinya sendiri, dan hasil kerja keras mereka tidak lagi dirampas manusia. Old Major membakar semangat seluruh hewan yang mendengarnya, dan mengajak semua hewan untuk melakukan pemberontakan dan revolusi.

Berselang tiga hari kemudian, Old Major meninggal dalam tidurnya. Kebanyakan hewan di Manor Farm tidak terlalu memikirkan tentang gagasan revolusi Old Major karena mereka mengira revolusi baru bisa terjadi pada generasi selanjutnya. Tapi tidak dengan dua ekor babi paling pintar di peternakan, yaitu Napoleon dan Snowball. Napoleon digambarkan sebagai babi yang sangar, badannya besar, dan disegani oleh semua penghuni peternakan. Sedangkan Snowball adalah babi yang cerdas dan kreatif. Kedua ekor babi ini yang menjadi penggerak revolusi. Mereka mengajarkan kembali nilai-nilai dari pidato terakhir Old Major, dan menyusunnya menjadi sebuah prinsip animalisme. Usaha Napoleon dan Snowball dalam meyakinkan hewan-hewan di peternakan juga dibantu oleh Squealer, seekor babi paling pandai dalam beretorika. Squealer mampu menjelaskan gagasan-gagasan rumit menjadi sederhana agar mudah diterima oleh hewan lain. Sangking pandainya Squealer dalam beretorika, dia mampu meyakinkan hewan-hewan bahwa yang hitam adalah putih.

Puncak revolusi terjadi ketika suatu hari Mr. Jones lupa memberi makan hewan-hewan ternaknya akibat mabuk berat. Kelaparan dan kemarahan yang telah lama terpendam akhirnya meledak. Tanpa perintah dan aba-aba, hewan-hewan bangkit melawan, menyerbu gudang makanan dan mengusir Mr. Jones beserta para pekerjanya dari Manor Farm. Pengusiran ini menjadi awal dari revolusi yang selama ini hanya menjadi angan-angan. Setelah Manor Farm dikuasai oleh hewan-hewan, kendali atas peternakan sudah sepantasnya jatuh kepada Napoleon dan Snowball. Beberapa kali dalam seminggu, Snowball dan Napoleon mengumpulkan hewan-hewan untuk diajak berdiskusi mengenai nilai-nilai animalisme. Setelah beberapa pertemuan dan diskusi serta perdebatan panjang lebar, akhirnya dirumuskan 7 prinsip animalisme yang berbunyi sebagai berikut:

  1. Whatever goes upon two legs is an enemy.
  2. Whatever goes upon four legs or has wings is a freind.
  3. No animal shall wear clothes.
  4. No animal shall sleep in a bed.
  5. No animal shall drink alcohol.
  6. No animal shall kill any other animal.
  7. All animals are equal.

7 prinsip animalisme ini kemudian ditulis besar-besar oleh Snowball di gudang peternakan agar selalu diingat oleh seluruh hewan.

Kehidupan di Manor Farm berubah drastis setelah pemberontakan berhasil. Hewan-hewan mulai bekerja jauh lebih keras dari sebelumnya, bukan karena paksaan, melainkan karena keyakinan bahwa mereka kini bekerja untuk diri mereka sendiri. Hasil panen terbukti melimpah, bahkan melebihi masa ketika Mr. Jones masih berkuasa. Namun, sejak awal sudah tampak ketimpangan, babi tidak ikut bekerja secara fisik dan justru mengambil peran sebagai pengawas dan pengatur. Snowball berupaya membentuk komite untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendidikan hewan, sementara Napoleon diam-diam mendidik 9 anjing yang baru lahir dari pasangan Jessie dan Bluebell, untuk dijadikan kekuatan. Di tengah kebingungan hewan-hewan lain atas keputusan-keputusan yang tidak mereka pahami sepenuhnya, Squealer berperan penting sebagai juru bicara, memanipulasi bahasa dan fakta untuk meyakinkan bahwa setiap kebijakan, termasuk jatah makanan yang lebih besar bagi babi (apel dan susu diutamakan untuk mereka), adalah demi kebaikan bersama.

Kabar tentang keberhasilan revolusi hewan menyebar ke peternakan-peternakan sekitar Inggris. Mr.Jones, bersama petani-petani lain, mencoba merebut kembali Manor Farm. Terjadilah pertempuran yang dikenal sebagai Battle of the Cowshed. Berkat strategi cerdas Snowball dan keberanian hewan-hewan lain, manusia berhasil dipukul mundur. Kemenangan ini dirayakan besar-besaran dan Snowball dielu-elukan sebagai pahlawan revolusi. Namun, di balik sorak sorai kemenangan, benih konflik baru mulai tumbuh, terutama karena Napoleon memilih diam, mengamati, dan menyimpan ambisinya sendiri.

Konflik internal antar hewan mulai memuncak. Perdebatan paling besar terjadi antara Snowball dan Napoleon soal pembangunan kincir angin. Snowball melihat kincir angin sebagai simbol kemajuan, alat yang bisa meringankan kerja hewan menjadi 3 hari kerja dalam seminggu dan membawa kehidupan yang lebih nyaman karena kincir angin bisa menghasilkan listrik untuk pemanas di musim dingin, serta untuk menyalakan alat-alat mesin tani. Napoleon, sebaliknya, menentang keras gagasan itu dan cenderung fokus pada produktivitas hewan seperti biasa. Napoleon tidak ingin tanaga para hewan terpecah fokus untuk membangun kincir angin, karena khawatir hasil produksi menjadi semakin sedikit. Perdebatan mereka semakin hari semakin sengit. Hingga akhirnya, pada saat Snowball sedang menjelaskan blueprint tentang kincir angin kepada hewan-hewan lain, Napoleon mengambil langkah tak terduga. Dengan satu aba-aba, 9 anjing yang selama ini ia besarkan menyerbu Snowball dan memaksanya kabur dari Manor Farm. Sejak saat itu, Snowball dicap sebagai pengkhianat dan dituduh sebagai konspirator atas terjadinya Battle of the Cowshed. Napoleon kemudian mengambil alih kendali penuh atas peternakan, menghapus sistem diskusi, dan menggantinya dengan keputusan sepihak melalui para babi. Ironisnya, tak lama kemudian Napoleon justru mengumumkan bahwa kincir angin akan tetap dibangun, sebuah momen yang menandai perubahan arah revolusi dari cita-cita bersama menjadi kekuasaan absolut yang dibungkus propaganda.

Kehidupan di Manor Farm justru semakin berat, jauh dari janji manis revolusi di awal. Para hewan dipaksa bekerja lebih keras dari sebelumnya, bahkan pada hari Minggu yang seharusnya menjadi hari istirahat. Bedanya, kali ini semua dikemas dengan narasi “kerja sukarela”, meskipun pada prakteknya, siapa pun yang menolak akan mendapat pengurangan jatah makanan. Pembangunan kincir angin pun dimulai, dan jelas terlihat betapa berat pekerjaan itu bagi hewan-hewan. Di saat yang sama, prinsip-prinsip animalisme mulai dilanggar secara perlahan. Para babi, atas perintah Napoleon, mulai menjalin hubungan dagang dengan manusia, sesuatu yang dulu dianggap tabu dan bertentangan dengan revolusi. Para babi juga mulai tidur di atas kasur. Ketika hewan-hewan lain mempertanyakan hal ini, Squealer kembali turun tangan, memelintir fakta dan meyakinkan bahwa tidak pernah ada larangan tidur di kasur, yang dilarang adalah tidur di atas seprei, karena seprei adalah buatan manusia. Puncaknya terjadi ketika kincir angin yang hampir selesai tiba-tiba runtuh akibat badai. Napoleon langsung menyalahkan Snowball, menuduhnya sebagai dalang yang menyusup di malam hari. Tanpa banyak bukti, hewan-hewan pun kembali percaya.

Suasana di Manor Farm menjadi jauh lebih kelam dari sebelumnya. Musim dingin datang, persediaan makanan menipis, dan para hewan mulai kelaparan. Untuk menjaga citra bahwa Manor Farm tetap makmur, Napoleon memerintahkan agar gudang biji-bijian diisi secara simbolis saat manusia berkunjung, lalu dikosongkan kembali setelah mereka pergi. Di dalam peternakan sendiri, rasa takut mulai menggantikan semangat revolusi. Puncaknya terjadi ketika Napoleon menggelar “pengakuan” massal. Beberapa hewan dipaksa mengakui kejahatan yang tidak pernah mereka lakukan, seperti bersekongkol dengan Snowball. Setelah pengakuan itu, mereka langsung dieksekusi oleh anjing-anjing Napoleon. Untuk pertama kalinya sejak revolusi, hewan membunuh sesama hewan. Meski banyak yang merasa takut dan bingung, Squealer kembali memainkan perannya, meyakinkan bahwa semua ini perlu demi keamanan peternakan. Tanpa disadari, salah satu prinsip animalisme pun berubah pelan-pelan. “No animal shall kill any other animal” kini memiliki catatan tambahan kecil: “without cause.”

Kekuasaan Napoleon semakin menjadi absolut. Gelar-gelar baru disematkan padanya, puisi dan lagu pujian bermunculan, dan setiap kegagalan selalu dialihkan menjadi kesalahan atau konspirasi dari Snowball. Lagu Beasts of England yang dulu menjadi simbol revolusi kini dilarang, digantikan lagu baru yang isinya memuja Napoleon semata. Di sisi lain, hubungan dengan manusia semakin intens. Napoleon berbisnis dua peternakan tetangga, Foxwood dan Pinchfield. Hingga pada suatu saat, Frederick (pemiliki Pinchfield Farm) menipu Napoleon dengan membayar kayu dengan uang palsu. Pengkhianatan ini juga diikuti pada serangan brutal manusia dan hancurnya kincir angin untuk kedua kalinya. Meski akhirnya manusia berhasil diusir, kemenangan itu terasa hampa karena dibayar dengan kerja, penderitaan, dan korban yang besar. Ironisnya, para babi merayakan “kemenangan” dengan minum alkohol, dan keesokan harinya prinsip animalisme kembali diubah secara diam-diam. "No animal shall drink alcohol to excess”.

Waktu berlalu dan hampir tak ada lagi hewan yang benar-benar mengingat bagaimana Manor Farm dulu sebelum revolusi. Generasi lama satu per satu mati, termasuk Boxer, Kuda terkuat di peternakan yang paling patuh dengan Napoleon, berujung dijual ke tukang jagal karena sudah sakit-sakitan (cedera). Bahkan hewan paling loyal pun tak selamat dari kekejaman Napoleon. Kincir angin akhirnya berdiri, tetapi bukan untuk meringankan kerja hewan, melainkan untuk menggiling gandum demi keuntungan para babi. Perlahan namun pasti, perbedaan antara babi dan manusia semakin kabur. Babi mulai berjalan dengan dua kaki, memakai pakaian, minum alkohol, dan berinteraksi akrab dengan manusia. Puncak ironi terjadi ketika para hewan mengintip pertemuan antara babi dan manusia, dan tak lagi mampu membedakan mana babi, mana manusia. Prinsip animalisme yang dulu ditulis besar-besar kini menyisakan satu kalimat saja. “All animals are equal, but some animals are more equal than others.”

Yak, ternyata tulisan gw malah bahas hampir tiap chapter dari animal farm :). Mari kita kembali ke review. Meskipun cerita ini dibuat untuk nyindir revolusi soviet, nyatanya novel ini menggambarkan banyak kondisi negara, dari dulu hingga sekarang, bahkan di Indonesia. Premise dari novel ini kalo gw tangkep sebenernya sederhana, power tends to corrupt. Dan inti dari segala inti permasalahan duniawi adalah orang-orang (siapapun kalian, dari kelas ekonomi manapun, sedang berkuasa atau sedang merasa tertindas) gak akan berhenti untuk mencari Power over people. That’s it. Revolusi yang digadang-gadang akan mengubah kondisi tiran ternyata cuman jadi ajang ganti aktor. Runtuhnya Orde Baru tahun ‘98 ternyata gak membuat Indonesia melesat jadi negara hebat. Masih dengan issue yang gitu-gitu aja, dengan aktor yang justru saat itu jadi penggerak revolusi. Novel Animal Farm bisa jadi renungan kita semua bahwa babi kalo melakukan revolusi ya tetep babi. Coba renungin lagi. Tulisan blog ini dirilis tahun 2026, Prabowo Subianto menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Buat yang ngerasa kesel, benci, gak terima, pesimis, hopeless (apalagi wakilnya Gibran), apakah kita layak punya presiden pinter, empatik, dan punya political will yang bagus? Wapresnya gak pernah baca buku? Itulah gambaran mayoritas kita saat ini, gak pernah baca buku. Orang-orang elit pemerintahan dan perwakilan kita korup dan mau kaya cepet? Itulah gambaran mayoritas kita saat ini. Orang-orang elit pemerintahan dan perwakilan kita males mikir dan tone deaf? Itulah gambaran mayoritas kita saat ini.

Pandji Pragiwaksono dalam show stand-upnya Mensrea (2025) pun mulai menyampaikan narasi yang senada dengan apa yang mau gw sampein dalam tulisan ini. Rakyatnya harus naik level. Mayoritas kita harus naik level. Buat yang baca ini dan dikaruniai anak, semoga kita bisa mendidik anak kita baik-baik biar generasi selanjutnya bener-bener naik level. Jangan ngimpi tiba-tiba punya pemimpin kayak Lee Kwan Yew, Deng Xiaoping, Umar bin Khattab. Coba tanya diri kita dulu. Siapkah punya pemimpin seperti beliau-beliau itu? Masyarakat yang beliau-beliau pimpin kualitasnya seperti apa? Singapur pada masa itu kualitas masyarakatnya seperti apa? China pada masa itu kualitas masyarakatnya seperti apa? Arab dan Syams pada masa itu kualitas masyarakatnya seperti apa? Manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis (1977) itu munafik, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya (gak punya agency), feodal, percaya takhayul, lemah karakter. Mungkinkah kita tiba-tiba punya pemimpin juru selamat bisa ngubah Indonesia jadi negara maju? kualitas hidup merata dengan baik Sabang-Merauke? gw pribadi percaya perubahan hanya bisa dicapai dengan Bottom-Up approach. Mulai dari akarnya. Bahkan mulai dari bibitnya.

Kembali ke buku. Novel Animal Farm ini sebenernya cukup banyak menjelaskan karakter-karakter hewan yang gak sempet gw singgung di ringkasan. Ada Benjamin si keledai yang dari awal Old Major pidato sebenernya gak pernah antusias karena punya feeling bakal sama aja ujungnya. Benjamin ini juga jadi hewan yang notice ketika prinsip animalisme mulai diubah pasal-pasalnya, tapi cenderung gak peduli. Ada Clover, teman dekatnya Boxer, Moses si gagak, ada Muriel si kambing, Mollie, dan lain-lain. Yang gak kalah menarik juga dari novel ini adalah percakapan-percakapan yang terjadi antar karakternya. Novel ini terdiri dari 10 chapter dengan total kurang lebih 100 halaman, jadi cukup tipis dan bisa dibaca sekali duduk (kalo niat). Gw sendiri beli yang versi English. Jujur gw agak lama bacanya karena style penulisannya dan vocabnya agak kurang familiar, mungkin karena udah ditulis cukup lama juga (skill issue).

Sampai jumpa di digest buku selanjutnya.

I give Animal Farm, four stars.